Kontestan Pilkada Jangan Gunakan Politik Uang, Pecah Belah dan Pakai Isu SARA

BUKAMATA.CO, PALEMBANG - Tjahjo Kumolo Menteri Dalam Negeri (Mendagri) angkat bicara ketika ditanya wartawan terkait penetapan Tersangka 38 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) oleh Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK).
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

BUKAMATA.CO,JAKARTA– Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengingatkan kontestan Pilkada untuk tidak menggunakan segala cara, mulai dari politik uang, memecah belah persatuan dan kesatuan bahkan memakai isu SARA.

“Pilkada harus dilakukan dengan cara yang bijak dan elegan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (21/2).

Sejauh ini, menjelang Pilkada 2018 dan tahapan Pilpres 2019 denyut dan tensi politik kian memanas. Sayangnya, dinamika yang terjadi dibumbui oleh praktek kotor yang meracuni demokrasi itu sendiri. Praktek politik uang, penyebaran ujaran kebencian, dan kampanye hitam melalui isu SARA lewat berbagai saluran media mulai menggeliat. Bahkan, telah menjadi alat untuk meraih kekuasaan.

Loading...

“Kita akan memasuki tahun politik, Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019. Selama itu, radikalisme dalam bentuk ujaran kebencian bercampur dengan propaganda politik dan kampanye hitam akan digunakan sebagai alat meraih kekuasaan,” katanya .

Para kontestan yang bertarung dalam Pilkada, kata Tjahjo, jangan menghalalkan segala cara demi kemenangan. Jangan menggunakan politik uang, memecah belah dan memakai isu SARA.
Tentunya, lanjut Tjahjo, cara-cara kotor dalam politik itu mengancam kedamaian dan pluralisme kehidupan masyarakat Indonesia. Kian berbahaya lagi, ketika agama dijadikan komoditas politik. Fenomena isu agama dijadikan komoditas politik terjadi karena ada dua preferensi politik identitas yang menguat ditengah masyarakat. Memilih pemimpin pun kecenderungannya berdasarkan kesamaan identitas. Bisa karena kesamaan suku atau agama.

“Politik identitas, sah saja dilakukan. Namun menjadi berbahaya ketika itu dipakai untuk mempersekusi kelompok atau keyakinan yang lain. Selain itu, munculnya polemik soal “pribumi” dan “non-pribumi” dikhawatirkan mengarah pada eksklusivitas dan membahayakan keragaman di tengah masyarakat,” kata Tjahjo.

Dibutuhkan langkah konkret untuk membendung itu. Salah satunya, dengan cara edukasi. Sebab, dampak merusak yang direproduksi berulang kali itu berpengaruh ke seluruh lapisan masyarakat. Dan, para politisi yang menggunakan politik identitas, biasanya tidak memiliki kinerja atau hasil kerja yang bisa dinilai baik. Jualannya semata mengandalkan isu identitas.

“Diperlukan langkah preventif, yaitu mengajak stakeholder masyarakat yang peduli Pilkada damai untuk bicara dan menyuarakan Pilkada damai dengan menghindari isu provokatif yang bisa memanaskan situasi dan bisa memecah belah bangsa,” katanya.

Semua elemen bangsa, ujar Tjahjo, harus bergerak menyuarakan Pilkada damai. Terutama para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat yang dipandang oleh publik.

Editor Ridho
sumber Kemendagri

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here