bukamata.co

Copyright © bukamata.co
All rights reserved
Desain by : sarupo

Mulyadi Bukan Type Pemimpin Kokoh Dalam Berprinsip, PDI Perjuangan Ucapkan Puji Syukur Rekom Dikembalikan 

Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP bersama pimpinan DPP PDI Perjuangan saat pembacaan Cakada beberapa waktu lalu.

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDI Perjuangan mengucapkan terima kasih kepada Mulyadi yang telah mengembalikan Rekom ke Partai pada Pilgub Sumatera Barat (Sumbar). Sejak awal, kata Hasto, PDI Perjuangan sudah menduga bahwa Mulyadi tidak kokoh dalam sikap sebagai pemimpin, sehingga mudah goyah dalam dialektika ideologi.

Pengembalian rekom dukungan dari PDI Perjuangan itu diduga karena buntut dari pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani yang kemudian digoreng oleh sekelompok politisi diduga dari PKS hingga menimbulkan kemarahan elit-elit di Sumbar.

"Padahal apa yang disampaikan oleh Mbak Puan merupakan suatu harapan agar Sumatera Barat jauh lebih baik sebagaimana sejarah telah mencatat dalam tinta emas, kepeloporan para pahlawan Sumbar seperti Moh Hatta, KH Agus Salim, Prof Mohammad Yamin, Rohana Kudus, HR Rasuna Said, Moh Natsir, Tan Malaka dll. Beliau para tokoh tsb adalah para pejuang bangsa, sosok pembelajar yang baik, dan menjadi keteladanan seluruh kader Partai” ungkap Hasto dalam keterangan persnya yang diterima bukamata.co, Senin, 7, September, 2020.

Sikap Mulyadi tersebut terang Hasto sangat dipahami oleh PDI Perjuangan, karena lanjut Hasto, politik kekuasaan bagi yang tidak kokoh dalam prinsip, hanya menjadi ajang popularitas.

“Bagi PDI Perjuangan menjadi pemimpin itu harus kokoh dan sekuat batu karang ketika menghadapi terjangan ombak, terlebih ketika sudah menyangkut Pancasila ” ujar Hasto.

Dikatakan Hasto, komitmen PDI Perjuangan terhadap Pancasila dan kemajuan Sumbar tidak pernah surut, meski 10 tahun terakhir ungkap Hasto, nampak ada sesuatu yang berbeda di provinsi tersebut. 
“Meski Pak Jokowi dan PDI Perjuangan kalah pada Pemilu 2014 dan 2019, kami tetap selalu mendorong Pak Jokowi untuk sering ke Sumbar, dan membangun Sumbar tanpa kecuali. Apakah masyarakat Sumbar akan berterima kasih? Itu nomor kesekian. Yang penting, sikap Partai terhadap Sumbar tidak berubah karena provinsi tersebut memiliki sumbangsih terhadap kepeloporan kemerdekaan Indonesia yang luar biasa. Jadi wajib hukumnya bagi Pak Jokowi dan kader PDIP dukung kemajuan Sumbar, baik ada dukungan maupun tidak!!” tegas Hasto.

Hasto mengatakan bagaimana PDI Perjuangan tidak kagum dengan Sumbar. 

"Dari bahasa Melayu saja, sejarah mencatat bagaimana bahasa yang pada tahun 1928 digunakan oleh sebagian kecil masyarakat nusantara, mampu diterima sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan diterima oleh semua suku bangsa menjadi bahasa persatuan Indonesia. Itu kan hebat. Hal tersebut terjadi karena kepeloporan tokoh nasional Sumatera Barat " kata Hasto.

“Bahkan makanan Padang diterima secara luas di seluruh Indonesia. Diterima secara terbuka, dan masyarakat Indonesia menjadikannya sebagai makanan nasional. Kalau bahasa dan makanan sudah Go Nusantara, masak mendapat masukan dan harapan agar modal kultural kepeloporan Sumbar untuk lebih Pancasilais, lalu direspons seperti itu " tambahnya lagi. 

“Apa yang disampaikan Mbak Puan merupakan bagian dari dialektika ideologis dan disampaikan dengan baik, dengan lafal Bismillah. Jadi mari kita lihat secara obyektif dan proporsional, dan dijauhkan dari dinamika Pilgub” terang Hasto.

Diberitakan sebelumnya Bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mulyadi-Ali Mukhni memutuskan mengembalikan surat rekomendasi PDIP dalam Pilkada serentak 2020. Mereka menyerahkan lagi surat rekomendasi setelah mencuat polemik pernyataan Ketua DPP PDIP Puan Maharani soal Sumbar dan Pancasila.

PDIP pun memutuskan tak mengambil bagian pada Pilkada Sumbar 2020. Dengan demikian, pasangan Mulyadi-Ali Mukhni hanya diusung oleh Partai Demokrat dan PAN.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait