bukamata.co

Copyright © bukamata.co
All rights reserved
Desain by : sarupo

Kata Wapres, Jika Tak Suka UU Ciptaker Lakukan Uji Materi ke MK Bukan Bikin Kerusuhan

KH Maruf Amin, saat memberikan pembekalan kepada Alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan LX dan Peserta PPRA LXI 2020 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI secara daring dari rumah dinas wapres di Jakarta, Selasa (13/10/2020). ANTARA/Asisten Deputi bidang Komunikasi dan Informasi Publik Sekretariat Wakil Presiden

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Pihak-pihak yang tidak terima atas disahkan UU Omnibus Cipta Kerja dipersilahkan menlakukan gugatan ke Mahkamah Institusi (MK) dengan cara melakukan Uji Materi atau Judiacial Review. Bukan membuat kegaduhan dan menggerakan massa dan memprovokasi masyarakat yang berujung kerusuhan.

Untuk itu, KH Maruf Amin, Wakil Presiden RI, mengingatkan kepada pihak-pihak untuk tidak membuat kegaduhan dan melanggar hukum, jika tak suka UU Cipta Kerja melainkan dengan menempuh jalur hukum lewat pengajuan uji materi ke Mahkamah Konstitusi.

Hal itu disampaikan orang nomor dua di RI ini saat memberikan pembekalan kepada Alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan LX dan Peserta PPRA LXI 2020 Lembaga Ketahanan Nasional secara daring dari Jakarta, Selasa (13/10/2020).

"Sesuai dengan prinsip supremasi hukum atau rule of law, pihak-pihak yang merasa keberatan dengan materi UU Cipta Kerja dapat menempuh jalan konstitusional ke MK, bukan jalur atau cara-cara yang menimbulkan kegaduhan, apalagi melanggar hukum," kata dia.

Dikatakan KH Maruf Amin, hal-hal yang dipersoalkan beberapa kalangan disebabkan kekeliruan penyampaian informasi dan kesalahan penerimaan terhadap konten Omnibus Law UU Cipta Kerja itu.

"Berdasarkan identifikasi dan analisa pemerintah, hal-hal yang dipersoalkan oleh beberapa kalangan muncul karena mispersepsi, disinformasi, kesalahpahaman atau disalahpahamkan," katanya.

Pemerintah kata Wapres RI, terbuka untuk menerima aspirasi masyarakat yang belum terakomodasi di dalam UU yang disahkan di sidang paripurna DPR pada Senin malam itu (5/10).

"Pemerintah membuka diri. Kalau masih ada aspirasi masyarakat yang belum terakomodasi, sebaiknya disampaikan kepada Pemerintah untuk menjadi bahan masukan dalam penyusunan PP (peraturan pemerintah) maupun perpres atau aturan pelaksanaan lainnya," katanya.

Sebelumnya, saat membuka Pra-Ijtima Dewan Pengawas Syariah (DPS) Tahun 2020 dari rumah dinas wapres di Jakarta, Senin (12/10), Ma'ruf Amin meminta organisasi kemasyarakatan Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dapat menjadi perantara bagi aspirasi masyarakat yang belum tertampung dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja.

MUI dan ormas-ormas Islam diminta untuk mendalami dengan baik isi UU Cipta Kerja dan menyampaikan saran kepada Pemerintah untuk diterjemahkan pada peraturan pemerintah, peraturan presiden maupun regulasi lain sebagai turunan dari UU itu.

"MUI bersama ormas-ormas Islam diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menampung aspirasi masyarakat, untuk kemudian disampaikan kepada Pemerintah secara konstruktif serta dengan cara yang baik," ujarnya.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait