bukamata.co

Copyright © bukamata.co
All rights reserved
Desain by : sarupo

Wartawan Gorontalo ke Kapolda : Giliran Rilis Kami Diundang, Giliran Liput Demo Kami Ditendang

Wartawan saat demo di Mapolda Gorontalo, Kamis (15/10/2020)

BUKAMATA.CO, GORONTALO - Puluhan wartawan melakukan aksi unjuk rasa ke Mapolda Gorontalo pada, Kamis, (15/10/2020) untuk mendesak agar Irjen Pol Akhmad Wiyagus, Kapolda dan Wakapolda di daerah setempat memberikan sanksi kepada bawahannya. Lantaran melakukan kekerasan sewaktu aksi demonstrasi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja 8 Oktober 2020 kemarin.

Namun sayangnya, Kapolda Gorontalo bersama Wakapoldanya enggan menemui pada pendemo. "Mulai hari ini, kami akan memboikot pemberitaan dari Polda Gorontalo, karena Kapolda dan Wakapolda enggan menemui kita kawan kawan" ungkap Koordintor Lapangan Helmi Rasid dalam orasinya.

Diungkapkan Helmi aksi damai wartawan se Gorontalo itu mereka lakukan sebagai bentuk protes kepada Polda Gorontalo akibat adanya dugaan intimidasi dan pembungkaman kerja kerja jurnalistik pada liputan demo penolakan UU Cipta Kerja di Gorontalo. 

"Kalau ada rilis (Konferensi pers. red) kita di undang, tapi saat meliput demo kita diintimidasi. Ini ada apa" tegas Yudistira Saleh dalam orasinya. 

Massa aksi juga menyuarakan tentang kekecewaan salah satu petinggi Polda yang selalu menggeluarkan pernyataan yang menyebutkan Hoaks kepada pemberitaan wartawan Gorontalo. 

"Kami telepon tidak diangkat, di WA ndak dibalas. Setelah berita naik dibilang hoaks. Ada apa ini" tegas Yudistira. 

Sebagai bentuk kekecawaan itu, massa aksi dari wartawan se Gorontalo juga meminta kepada Kapolda Gorontalo untuk mengganti Kabid Humas Polda Gorontalo.

Dalam aksi itu, ada enam tuntutan yang dibawa Aliansi Wartawan-Jurnalis Gorontalo.

Pertama mereka mengecam tindakan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian kepada para jurnalis yang sedang meliput aksi penolakan undang-undang cipta kerja.

Kemudian meminta kepada kepolisian Polda Gorontalo untuk belajar lagi tentang undang-undang pers serta mengutuk keras perampasan fasilitas peliputan milik wartawan saat aksi penolakan undang-undang cipta kerja.

"Meminta Kapolda Gorontalo menindak tegas aparat kepolisian yang melakukan kekerasan, intimidasi dan perampasan alat peliputan wartawan; serta akan memboikot liputan di Polda Gorontalo jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Meminta kepolisian dan pihak-pihak yang keberatan dengan kerja jurnalistik untuk menempuh mekanisme dewan pers sehingga tidak seenaknya mengatakan hoaks terhadap produk jurnalistik " kata Helmi.

Dalam aksi ini, massa mengambil start dari Bundaran Saronde Kota Gorontalo, kemudian menuju Polda Gorontalo menggunakan kendaraan masing-masing.

Setibanya di Polda Gorontalo, seluruh wartawan-jurnalis meletakkan ID Card Pers mereka di depan pintu gerbang dan menaburkan bunga.

"Taburan bunga ini sebagai bentuk bahwa kebebasan pers kami telah mati," tandas Helmi.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait