bukamata.co

Copyright © bukamata.co
All rights reserved
Desain by : sarupo

Fadli Zon Seperti Baling-Baling, Ditantang Mundur Dari Gerindra, Berani Nggak Ya ?

Fadli Zon kader Partai Gerindra (Foto Internet)

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Pegiat Media Sosial (Medsos) Denny Siregar menantang naluri kelaki-lakian Fadli Zon untuk mundur dari Partai Gerindra. Lantaran Fadli Zon setiap penyampaiannya ke publik selalu bertolak belakang dengan partai dan Ketum nya Prabowo Subianto yang jelas-jelas mendukung pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan KH Maruf Amin soal UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Hal itu disampaikan Denny Siregar melalui akun twitternya @Dennysiregar7, pada, Kamis 15 Oktober 2020. Kemudian cuitannya itu ditanggapi beragam komentar warganet.

"Seharusnya @fadlizon berkaca pada @FerdinandHaean3 " kata Denny dalam cuitannya yang ia tautkan cuitan itu ke akun twitter Fadli Zon dan Ferdinand Hutahaean @FerdinandHaean3. 

Denny mencontohkan Ferdinand Hutahaean dengan sportif mengundurkan diri dari Partai Demokrat lantaran tidak sejalan dengan partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.  

"Kalau tidak sejalan dengan kebijakan partai, mundur adalah sebuah kehormatan. Itu baru namanya laki-laki. Bukan ikan buntal " kata Denny mengkritik Fadli Zon lagi.

Sebelumnya juga Denny Siregar sempat menyindir Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto terkait pernyataan-pernyataan anak buahnya Fadli Zon.

Hal itu ia sampaikan juga dalam cuitan melalui akun twitternya yang kemudian ia tautkan ke akun Prabowo Subianto, cuitannya itu soal pernyataan anak buahnya Fadli Zon.

"Pak @prabowo YTH, saya mau nanya. Setahu saya  @Gerindra mendukung UU Cipta Kerja. Tapi kenapa bapak membiarkan kader bapak ini, terus menerus menentang dan mendukung demo menolaknya ? " cuit Denny, 14, Oktober, 2020. 

Kemudian Denny mempertanyakan ketegasan sikap Prabowo Subianto kepada Fadli Zon. "Apakah bapak tidak tegas kpd kadernya ataukah memang sedang bermain dua kaki ? " tulis dia.

Sikap Fadli Zon juga terlihat dalam kanal YouTube, baru-baru ini, dimana ia mengatakan baru menerima naskah UU Cipta Kerja versi 812 halaman dari badan legislasi pada 12 Oktober, pukul 22.21 WIB. 

Padahal, seharusnya naskah itu sudah dibagikan ke semua anggota dewan pada rapat paripurna pengesahan UU pada Senin (5/10/2020).

"Omnibus law harus betul-betul dikaji, mana yang sesunggahnya hasil dari rapat 5 Oktober dan bisa dibandingkan dengan naskah yang dianggap final dan dibagikan ke DPR setelah 12 Oktober,"  kata dia.

Fadli Zon mengkritik lembaga tempat dia mengabdi, menurut RUU Omnibus Law Cipta Kerja itu dari sisi prosedural dia mengira banyak kelemahan, karena kata dia lagi terlampau terburu-buru, tergesa-gesa disahkan.

Padahal sebelumnya, Fadli Zon pernah mengatakan bahwa UU tersebut belum tentu menjadi panacea (obat mujarab) menghadapi resesi ekonomi. Tetapi dia juga mengatakan bahwa pengesahan UU Cipta Kerja sudah didasarkan pada suara mayoritas di DPR.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait