bukamata.co

Copyright © bukamata.co
All rights reserved
Desain by : sarupo

PKS: Audit Penerbangan Lebih Utama dari Peringkatan Maskapai

Ilustrasi (internet)

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS, Suryadi JP sebut audit berkala penerbangan lebih utama dibanding peneringkatan maskapai. Hal ini disampaikan Suryadi, Rabu (13/1/2021) menanggapi tingginya angka kecelakaan pesawat sipil di Indonesia. 

Dari data yang disebutkan Suryadi, Indonesia menduduki peringkat ke delapan di dunia dan nomor satu di Asia, atas angka kecelakaan pesawat komersil. 

"Hendaklah Pemerintah mulai membenahi kembali audit keselamatan penerbangan di Indonesia. Fraksi PKS berpendapat, masih sangat sedikitnya maskapai yang terdaftar dalam audit keselamatan internasional padahal pendirian maskapai saat ini dipermudah, harus juga menjadi perhatian Pemerintah," papar Suryadi. 

Suryadi menambahkan, meski demikian peringkat keselamatan penerbangan Indonesia sudah menempati peringkat ke-55 dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional - International Civil Aviation Organization (ICAO). 

"Tidak perlu Pemerintah membuat peringkat maskapai-maskapai di Indonesia, namun pastikan audit keselamatan penerbangan internasional seperti IOSA dipenuhi oleh semua maskapai tersebut. Bukan berarti maskapai yang belum melakukan IOSA tidak aman. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa maskapai dengan IOSA lebih aman daripada yang belum," ungkapnya. 

Seperti diketahui, dalam hal Audit Keselamatan Operasional Internasional (IOSA), Indonesia hanya mendaftarkan 5 maskapai, yaitu Garuda Indonesia, AirAsia Indonesia, Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.

"Itupun Garuda Indonesia sudah habis masa berlakunya sejak tanggal 8 September 2020 dan belum didaftarkan ulang karena adanya pandemi Covid-19," kata Suryadi. 

Dalam hal audit keamanan dan keselamatan oleh Basic Aviation Risk Standard (BARS) dari yang dikeluarkan oleh lembaga independen taraf internasional, Flight Safety Foundation, tercatat ada 11 maskapai dari Indonesia, salah satunya Sriwijaya Air yang mendapatkannya sejak bulan sejak Maret 2020. Dari 11 maskapai tersebut, 3 maskapai sudah tak beroperasi lagi seperti Adam Air, Merpati Airlines, dan Mandala Airlines.

"Dari audit keselamatan penerbangan di atas, yaitu IOSA dan BARS, masih sedikit maskapai di Indonesia yang terdaftar. Hal ini adalah ironis karena menurut situs Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, ada 21 maskapai transportasi penumpang yang masih beroperasi sampai sekarang," imbuhnya.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait