Anak-Anak SBY Disarankan Belajar Empati, Disaat Semua Elemen Bangsa Berjibaku Melawan COVID-19 

Anak-Anak SBY Disarankan Belajar Empati, Disaat Semua Elemen Bangsa Berjibaku Melawan COVID-19 

Wanto Sugito, Ketua DPC PDI Perjuangan Tangsel (Foto istimewa)

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Tudingan dua anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yakni Agus Harimurti Yudhohyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang menyebut pemerintahan saat ini adalah negara yang gagal atau failed nation dinilai individu yang tidak memiliki empati terhadap kondisi bangsa yang berjibaku menghadapi pandemi COVID-19 saat ini.

Boro-boro bagaimana memikirkan dan ikut terlibat aktif membantu rakyat yang kesusahan melawan pandemi COVID-19 ini. Dua bersaudara anak SBY itu justru mencari kesempatan untuk menambah keruh suasana bangsa disaat pemerintah tengah fokus dan berusaha menyelamatkan rakyat ditengah musim pagebluk ini.

Hal itu disampaikan Wanto Sugito, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menanggapi pernyataan dua pucuk pimpinan Partai Demokrat (PD), yaitu Ketum PD Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang mempertanyakan kemampuan negara melawan COVID-19.

"Sikap kekhawatiran duo bersaudara itu seperti bukan sikap seorang ksatria bangsa, bukan sikap asli bangsa Indonesia yang mempunyai jiwa pejuang, mereka melupakan sejarah bahwa bangsa ini sudah terlatih dan tangguh menghadapi segala badai, bahkan dapat dikatakan pernyataan mereka seperti orang yang putus asa. Boro-boro memberikan semangat dan membantu rakyat, justru mereka sendiri seperti orang putus asa" kritik Klutuk panggilan akrab Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) ini, Jumat pagi (9/7/2021) di Jakarta.

Disarankan Klutuk, sebaiknya AHY dan Ibas jika memang tak punya kemampuan membantu pemerintah dan rakyat melawan pandemi COVID-19 ini, lebih baik berdiam diri di rumah saja dan terus menjaga imun dan iman agar tidak terjangkit virus korona.

"Jika perlu berikan dukungan semangat kepada rakyat, berikan pernyataan-pernyataan positif ke publik, berikan semangat bahwa kita bangsa yang kuat, tangguh dan bangsa pejuang, supaya ada semangat gotong royong kepada sesama anak bangsa tunjukan pada dunia bahwa kita bangsa yang kompak " tukas aktifis 98 ini.

Sebelumnya, Ibas dalam keterangan tertulis yang dibagikan Kepala Bakomstra PD Herzaky Mahendra Putra, pada, Rabu (7/7/2021) bicara keras soal kemampuan pemerintah menghadapi pandemi. Dia tidak ingin Indonesia menjadi bangsa gagal dalam penanganan pandemi Corona.

"Begini ya, COVID-19 makin 'mengganas'. Keluarga kita, sahabat kita, dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar, bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini?" kata Ibas dikutip dari detik.com.

"Jangan sampai negara kita disebut sebagai 'failed nation' atau bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," sambung dia.

Kemudian abang kandungnya AHY menyusul. Dia mengawali retorikanya dengan bicara soal status ekonomi Indonesia. Bank Dunia resmi mengumumkan bahwa Indonesia masuk kategori negara lower-middle income atau negara dengan penghasilan menengah ke bawah. Asesmen Bank Dunia per 1 Juli 2021 menyatakan pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita Indonesia tahun 2020 turun menjadi USD 3.870.

Padahal, tahun lalu GNI per kapita Indonesia berada di level USD 4.050. Capaian tersebut membuat Indonesia naik kelas menjadi upper-middle income country atau negara berpenghasilan menengah ke atas.

Menurut AHY kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak ideal. Namun, menurutnya, masalah intinya bukan pada status kelas penghasilan menengah ke bawah.

"Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas. Masalah gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari COVID?" kata AHY dalam keterangan tertulis yang didapat dari Kepala Bakomstra DPP PD Herzaky Mahendra Putra, Rabu (7/7/2021).

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait