Buat Anies Baswedan, Legislator Gerindra Kecewa Gegara Jakarta Fair 2022 Tidak Gaungkan Budaya Betawi

Buat Anies Baswedan, Legislator Gerindra Kecewa Gegara Jakarta Fair 2022 Tidak Gaungkan Budaya Betawi

Hajjah, Himmatul Aliyah, anggota Komisi X DPR RI (Foto dpr.go.id)

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Hajjah, Himmatul Aliyah, anggota Komisi X DPR RI angkat bicara soal agenda tahunan setiap ulang tahun ibu kota DKI Jakarta lantaran sudah tidak lagi mengangkat budaya Betawi lagi.

Diungkapkan Himmatul, Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta asal mulanya adalah peristiwa budaya masyarakat Betawi di Jakarta.

Dan kali pertama diadakan tahun 1967, penggagasnya waktu itu kata Himmatul, ingin mengadakan pameran besar yang menyatukan berbagai pasar malam dan saat itu tersebar di berbagai wilayah di Jakarta. Dan termasuk pasar malam Gambir yang waktu itu diadakan setiap tahun di Monas.

Dan itulah mengapa sejak pertama diadakan sampai tahun 1991 Pekan Raya Jakarta diadakan di Monas.

Namun tambah dia seiring dengan perkembangan jumlah peserta dan pengunjung yang terus bertambah, sejak 1992 Pekan Raya Jakarta berubah dari sekedar acara pasar malam menjadi pameran berskala besar dan penyelenggaraannya dipindah ke kawasan Kemayoran Jakarta Pusat dan menjadi ajang tahunan pada peringatan hari ulang tahun ibu kota Indonesia itu.

"Terkait dengan acara Jakarta Fair tahun 2022 yang telah menimbulkan keresahan para Budayawan Betawi karena dianggap tidak menggaungkan budaya Betawi dan dinilai lebih banyak bernuansa modernnya dibanding dengan budaya tradisional dalam hal ini budaya Betawi,  dan menurut saya keresahan para Budayawan Betawi itu sangatlah wajar dan harus menjadi perhatian yang serius bagi penyelenggara Jakarta Fair " kata Himmatul, kepada wartawan, Rabu, 15, Juni, 2022.

Karena, lanjut Politisi Partai Gerindra ini, meskipun Jakarta warganya multikultur, multi etnis dan kota metropolitan yang menjadi salah satu kota besar internasional modern, namun budaya Betawi yang menjadi akar budaya daerah setempat harus tetap dilestarikan.

Hal itu juga kata anggota Badan Kerja Sama Antar parlemen (BKSAP) DPR RI ini, sesuai dengan amanah Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang diantaranya mengamanahkan pemerintah dan masyarakat berkewajiban memajukan kebudayaan dan melestarikan kebudayaan bangsa.

"Pemajuan kebudayaan ini dilakukan terhadap semua unsur kebudayaan di antaranya adat istiadat, seni, bahasa dan semua yang berkaitan dengan cipta, rasa, karsa, dan hasil karya masyarakat Indonesia " kata dia.

Untuk itu lah tegas Himmatul, Jakarta Fair yang dikenal sebagai pameran terbesar di Asia Tenggara seharusnya bisa memadukan modernitas dan tradisionalitas dengan proporsi acara yang seimbang.

"Jakarta Fair seharusnya menjadi representasi bagi masyarakat Betawi yang tinggal di kota Jakarta yang metropolitan, yakni bagaimana agar tetap memegang teguh jati diri dan nilai-nilai luhur budaya Betawi di tengah arus budaya modern " tutup dia, dalam keterangan persnya di Jakarta, 14 Juni 2022.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait