Syamsuar Kembali Hamburkan Duit Rakyat, DPRD dan Aktifis Tolak Rencana Bangun Payung Rp. 42 M

Syamsuar Kembali Hamburkan Duit Rakyat, DPRD dan Aktifis Tolak Rencana Bangun Payung Rp. 42 M

Syamsuar, Gubernur Riau (Foto gatra.com)

BUKAMATA.CO, PEKANBARU - Masih hangat soal kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) yang menganggarkan Rp. 9,6 milyar dana APBD untuk membangun tiga lapangan Tenis. Lapangan tenis itu dibangun untuk Kejati Riau dengan anggaran Rp. 4,4 Milyar Pengadilan Agama Rp. 1,9 Milyar, serta Lapangan Tenis Tertutup Rp. 3,1 Milyar.

Kali ini Gubernur Riau, Syamsuar kembali menganggarkan dana Rp 42 Miliar hanya untuk membuat payung elektrik di Masjid Raya An Nur.

Kebijakan Syamsuar ini ditentang keras oleh Triono Hadi, Penelitii Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Riau karena apa yang dilakukan politisi Partai Golkar bukan priiritas.

Bahkan kata Triono dirinya mendukung penolakan yang dilakukan oleh anggota DPRD Riau Sugeng Pranoto.

"Mendukung anggota DPRD menolak rencana pembanguna  itu. Karena pembangunan itu bukan prioritas daerah " kata Triono kepada bukamata.co, Kamis, 15, Juni, 2022, di Pekanbaru.

Pemerintah daerah kata Triono harusnya melaksanakan progran pembangunan  sesuai prioritas daerah.

Baca Juga : Fitra Riau Nilai Gubri Tak Tahu Malu Boroskan Anggaran Bangun Lapangan Tenis

"Rp. 42 Milyar lebih baik untuk membangun jalan membantu warga yang saat ini masih kesulitan akses infrastruktur. Syamsuar harus menghentikan rencana pembangunan yang bukan prioritas daerah itu " tukas Triono.

Sebelumnya juga Sugeng Pranoto, Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Riau, Sugeng Pranoto, menegaskan bahwa pihaknya menolak keras rencana Pemprov Riau yang ingin menganggarkan dana Rp 42 Miliar hanya untuk membuat payung elektrik di Masjid Raya An Nur.

Karena kata Sugeng, kebijakan Syamsuar itu sangat tidak adil jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, masyarakat sudah tiga tahun tak menikmati bantuan untuk rumah ibadah.

"Kami di Dewan menolak keras pembangunan tenda atau payung elektrik ini, ribuan proposal pembangunan rumah ibadah baik masjid, musalhala atau gereja tak diperhatikan oleh Pemprov selama ini," kata Sugeng, Kamis (15/6/2022).

Dikatakan politisi PDI Perjuangan ini, jika Pemprov memang peduli dengan rumah ibadah, alangkah lebih baik Pemprov Riau mengutamakan pembangunan atau bantuan untuk rumah ibadah di lingkungan masyarakat.

Hal itu tentunya lebih disambut baik oleh masyarakat daripada membangun tenda elektrik seperti ini. Dan jika pembangunan itu dipaksakan, dikhawatirkan membuat ribuan pengurus rumah ibadah kecewa.

"Saya rasa kebijakan ini tidak hanya menyakiti hati dewan, tapi ribuan pengurus rumah ibadah akan sakit hati, masak iya bangun tenda Rp42 miliar bisa, sementara sebelumnya untuk rumah ibadah yang jumlahnya ribuan di Riau hanya Rp 33 miliar namun ditolak," kata wakil rakyat Dapil Inhu-Kuansing ini.

Untuk bantuan rumah ibadah ini sendiri, lanjutnya, sudah diverifikasi sejak tiga tahun lalu. Pemprov bahkan sudah memanggil pengurus, dan semua syarat sudah lengkap semua, bahkan DPRD Riau sudah menyetujui anggaran Rp 33 miliar.

"Tiba-tiba dibatalkan oleh Gubernur. Ini tentu setiap kita anggota dewan saat reses ditagih oleh masyarakat, kita kadang-kadang kehilangan muka, sudah tiga tahun ditolak terus," jelasnya.

Yang paling menyakitkan lagi, katanya, kalau Masjid An Nur beli payung elektrik langsung dikabulkan, setelah sebelumnya di APBD 2021 sempat ditunda pembangunannya.

"Ribuan masjid diakomodir dewan ditolak, kenapa beli payung langsung di acc Pak Gubernur. Masjid itu sudah didatangi dan sudah oke tinggal pencairan malah ditolak. Jelas itu sakit hati mereka," ujar Sugeng.

Sugeng meminta jika Gubernur terus ngotot membangun payung elektrik, maka harus mau dulu menganggarkan untuk bantuan rumah ibadah.

"Kalau tetap ngotot merealisasikan payung Masjid Annur itu, cairkan dulu (untuk masjid), jangan buat malu pengurus masjid dan dewan sudah berjanji," ujarnya.

Jika alasan Pemprov untuk pengembangan wisata religi, menurutnya tidak masuk akal. Sebab, lebih bagus diutamakan dulu kebutuhan utama rumah ibadah daripada payung yang tujuannya kebutuhan kedua.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait