Tiga Alasan Kenapa Jokowi Harus Turun Tangan Atas Matinya 2 Pendukung Persib

Tiga Alasan Kenapa Jokowi Harus Turun Tangan Atas Matinya 2 Pendukung Persib

Logo Persib. (Adam Husein/Republikbobotoh.com)

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Sugeng Teguh Santoso, Ketua Ind Police Wacth (IPW) menyatakan nasib penanganan kasus meninggalnya dua bobotoh, sebutan pendukung klub sepakbola Persib Bandung yang dilakukan Polresta Bandung dan Polda Jabar masih "gelap". Oleh karenanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus turun tangan dan patut mendorong pihak kepolisian secepatnya menuntaskan serta menetapkan tersangkanya.

Menurut Sugeng hal ini harus menjadi perhatian presiden karena telah tiga minggu usai kejadian pada Jumat (17 Juni 2002) pihak Kapolreta Bandung dan Polda Jabar belum menetapkan tersangka meninggalnya Sopiana Yusup dan Ahmad Solihin.

Kedua pendukung Persib Bandung itu  terinjak-injak hingga tewas di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung.

Padahal kata Sugeng, kasus tersebut sudah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan. 

Apalagi tambah dia, Presiden Jokowi dalam pidato pada upacara peringatan ke-76 Hari Bhayangkara di lapangan Akpol Semarang, Jawa Tengah, Selasa (5 Juli 2002) menegaskan kalau anggota Polri selalu dalam pengamatan rakyat.

"Saudara-saudara selalu dalam penilaian rakyat. Rakyat menilai apakah prilaku Polri sesuai dengan harapan rakyat," kata Presiden Jokowi dituturkan Sugeng, kepada bukamata.co, Jumat, 8, Juli, 2022, dalam keterangan persnya. 

Oleh sebab itu tegas Sugeng, IPW mendesak Presiden Jokowi untuk mendorong pihak kepolisian mengungkap siapa yang bertanggungjawab atas hilangnya nyawa dua bobotoh Persib tersebut. Karena, pihak penyidik hingga kini masih belum menemukan tersangkanya sehingga menjadikan kasus ini dipenuhi suasana "kegelapan".

"Akibatnya, menimbulkan tanda tanya di masyarakat: Ada apa? Ada tiga alasan kenapa Presiden Jokowi harus turun tangan dan mendorong kepolisian menuntaskan kematian dua bobotoh Persib secepatnya " kata Sugeng.

Pertama, beber Sugeng, bahwa turnamen sepak bola pra musim tersebut memakai nama " Piala Presiden". Hal ini menimbulkan tanggungjawab moral bagi presiden untuk ikut memperhatikannya. Sehingga sudah patut kalau Presiden meminta pihak kepolisian agar menegakkan hukum untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Alasan kedua ungkap dia lagi, kematian Sopiana Yusup dan Ahmad Solihin yang terinjak-injak di Stadion merupakan hilangngnya nyawa yang sia-sia. Padahal, tidak ada satu orang pun yang berhak atas nyawa orang lain atau menghilangkan nyawa orang lain sesuai pasal 28 UUD 1945.

"Oleh karena itu, Presiden Jokowi dapat meminta kepolisia mempertanggung jawabkan hukuman sesuai aturan hukum " tegas dia.

Ketiga lanjutnya lagi, , Presiden selaku atasan Kapolri seperti yang disebutkan dalam UUD 1945, Ketetapan MPR dan juga Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, berhak menegur Kapolri bila ada anggota Polri yang tidak menjalankan tugas sesuai tupoksinya. Dalam hal ini, penanganan kasus meninggalnya dua bobotoh Persib.

Menurut Sugeng, lambannya Polresta Bandung dan Polda Jabar memperlihatkan enggan melaksanakan Program Polri Presisi yang dicanangkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ini terlihat dengan tidak adanya transparansi berkeadilan tentang pasal berapa dan undang-undang apa yang dikenakan pada tingkat penyidikan tersebut.

Penutupan diri dan lambannya penanganan ini tegas Sugeng jelas mengkhianati Polri yang presisi. Padahal aturan hukum yang diterapkan dalam kasus meninggalnya dua bobotoh itu telah jelas mengacu pada pasal 103 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dan kelalaian pasal 359 KUHP juncto pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Sehingga menurut penilaian IPW kata Sugeng, pertanggungjawaban hukumnya dari kematian Sopiana Yusup dan Ahmad Solihin ini terletak kepada panitia, baik panitia daerah dan panitia pelaksana pusat turnamen sepak bola pra musim Piala Presiden.

"Yang pasti, Polresta Bandung dan Polda Jabar harus terbuka dalam pengenaan pasal dan tersangkanya kepada publik guna memenuhi rasa keadilan masyarakat " tutup dia. 

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait