Senator Minta Produsen SKM Ubah Iklan

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Kisruh mengenai Susu Kental Manis (SKM) yang telah dinyatakan bukan susu masih kontroversi. Itu disebabkan presepsi sebagian besar masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa susu kental manis (SKM) adalah asupan yang setara dengan susu harus segera dirubah.

Untuk itu perlu segera ada sosialisasi masif dan komprehensif dari Pemerintah termasuk meminta para produsen susu mengubah pesan dalam setiap tayangan iklannya dan memberi peringatan peruntukan SKM terutama batasan usia di kemasan produknya.

Ketua Komite III DPD RI yang membidangi persoalan kesehatan Fahira Idris mengungkapkan, selama ini ada dua persepsi yang timbul di masyarakat terkait peruntukan SKM.

Loading...

Persepsi pertama, yang paling banyak dipercaya masyarakat, SKM adalah susu. Semakin sering mengonsumsinya maka semakin sehat terlebih buat anak-anak. Iklan SKM di televisi menjadi faktor yang paling kuat membentuk paradigma berpikir seperti ini.

Persepsi kedua, ada sebagian kelompok masyarakat yang sudah memahami bahwa SKM bukan susu dan tidak boleh dikonsumsi berlebihan, tetapi bingung karena tidak ada sosialisasi masif terkait hal ini dari Pemerintah.

“Sebenarnya polemik ini kan sudah bergulir cukup lama di masyarakat. Namun, apapun itu kita apresiasi penegasan yang dikeluarkan BPOM beberapa waktu lalu,”ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima bukamata.co, Senin (16/7/2018).

Namun, menurut Ffahira, penegasan soal SKM harus disertai dengan sosialisasi masif dan komprehensif ke seluruh penjuru Indonesia. Dirinya berharap BPOM maupun Kemenkes segera merumuskan sosialisasi soal SKM secepat mungkin. Terutama ketegasan batas usia yang dilarang mengonsumsi SKM.

“Masif maksudnya menggunakan berbagai saluran komunikasi dan sosialisasi dengan volume yang intensif agar informasi soal SKM mudah diketahui masyarakat. Sedangkan komprehensif maksudnya pesan dan tujuan sosialisasi soal SKM ini tepat dan tidak multitafsir,”jelasnya.

Jangan sampai sosialisasi ini membuat masyarakat menjadi antipati terhadap SKM. Indonesia, lanjut dia, sedang menghadapi tantangan serius di kesehatan yaitu beban ganda penyakit.

Jika pada era 1990-an, penyebab kematian dan kesakitan terbesar adalah penyakit menular seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), Tuberkulosis (TBC), dan Diare. Namun sejak 2010, penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan kencing manis menjadi penyebab utamanya.

“Ini semua diakibatkan gaya hidup dan konsumsi pangan yang tidak sehat. Penyakit-penyakit tidak menular ini sekarang mendominasi penyebab kematian dan kesakitan terbesar,”imbuhnya.***

Laporan : Bambang S
Editor : Adri Akbar

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here